BAB I
PENDAHULUAN
A . Dasar Pemikiran
A . Dasar Pemikiran
Dalam terjadinya proses kegiatan
pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh sebagai aktor utama. Para
pendidik telah memainkan peranan yang amat signifikan dengan cara mendirikan
lembaga pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak, hingga Perguruan
Tinggi atau Universitas. Di lembaga-lembaga pendidikan tersebut, mereka telah
mengembangkan sistem dan pendekatan dalam proses belajar mengajar, visi dan
misi yang harus diperjuangkan, kurikulum, bahan ajar berupa buku-buku, majalah,
dan sebagainya, gedung-gedung tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan lengkap
dengan sarana prasarananya, tradisisi dan etos keilmuan yang dikembangkan,
sumber dana dan kualitas lulusan yang dihasilkan.
Seiring dengan itu sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengkaji gagasan, pemikiran dan pendapat dari pemikir pendidikan masa lalu untuk dijadikan masukan bagi penyusunan konsep pendidikan masa depan dan diteladani karena keberhasilannya setelah terlebih dahulu melakukan proses analisis, dialektika internal, dan sebagainya. Inilah antara lain yang mendasari pemikiran disusunnya makalah ini.
Seiring dengan itu sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengkaji gagasan, pemikiran dan pendapat dari pemikir pendidikan masa lalu untuk dijadikan masukan bagi penyusunan konsep pendidikan masa depan dan diteladani karena keberhasilannya setelah terlebih dahulu melakukan proses analisis, dialektika internal, dan sebagainya. Inilah antara lain yang mendasari pemikiran disusunnya makalah ini.
B. Tujuan
Penulisan makalah Tokoh-tokoh pendidikan
ini memiliki tujuan dan sasaran sebagai berikut:
1. Mendokumentasikan pemikiran para tokoh tokoh pendidikan di Indonesia secara utuh, lengkap, komprehensif dan sistematis.
1. Mendokumentasikan pemikiran para tokoh tokoh pendidikan di Indonesia secara utuh, lengkap, komprehensif dan sistematis.
2. Memberikan apresiasi (penghargaan)
intelektual kepada para tokoh pendidikan masa lalu dalam rangka memberikan
kesadaran bagi para tokoh selanjutnya untuk mengupayakan karya konstruktif
dalam bidang pendidikan sesuai dengan zamannya.
3. Menyediakan bahan kajian awal bagi
para mahasiswa yang ingin melakukan pendalaman tentang keahlian dalam bidang
pendidikan.
4. Memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Bahasa Indonesia.
C. Ruang Lingkup
Seiring dengan tujuan tersebut di atas,
maka ruang lingkup kajian makalah ini difokuskan kepada upaya memahami
pemikiran para tokoh pendidikan di Indonesi, dengan catatan sudah pasti tidak
mungkin menjangkau seluruh pemikiran para tokoh pendidikan tersebut, mengingat
keterbatasan sumber dan sebagainya.
Pemikiran pendidikan dari tokoh tersebut
akan dilihat secara komprehensif baik dari segi visi, misi, tujuan dan strategi
yang dikembangkan dalam rangka memajukan pendidikan. Visi, misi, tujuan
pendidikan, kurikulum, proses belajar mengajar, sarana prasarana, administrasi,
hubungannya dengan masyarakat dan hubungan kerja; evaluasi, biaya serta peran
yang dimainkan para lulusannya.
D. Metodologi dan Pendekatan
Penulis makalah ini dapat dikategorikan
sebagai penelitian yang bebentuk deskriptif analitis. Maka upaya yang dilakukan
adalah memberikan uraian atau deskripsi yang seluas-luasnya terhadap bidang
pemikiran yang dibahas.
Untuk mendeskripsikan masalah tersebut,
maka bahan-bahan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah buku-buku,
jurnal, internet, dan sebagainya yang sudah tertulis para pakar dalam bidang
pendidikan, termasuk pula hasil-hasil penelitian yang dapat
dipertaggungjawabkan akuntabilitas ilmiahnya.
BAB II
PEMBAHASAN
KI HAJAR DEWANTARA
Indonesia pernah
dijajah oleh Belanda dan Jepang. Belanda menjajah Indonesia tiga setengah abad.
Sedangkan Jepang menjajah Indonesia selama lebih kurang tiga setengah tahun.
Tidak seperti halnya Inggris terhadap rakyat jajahannya seperti India dan
Mesir, Belanda tergolong pelit terhadap rakyat jajahannya. Sedangkan Inggris
bersikap baik dan memberdayakan terhadap rakyat jajahan. Akibatnya rakyat
jajahan Inggris adalah rakyat yang berpendidikan. Sedangkan rakyat jajahan
Belanda adalah rakyat bodoh. Itulah yang dialami dan terjadi pada bangsa
Indonesia. Menjelang akhir masa penjajahannya, Belanda mulai memberikan
perhatian terhadap pendidikan bangsa Indonesia, setelah mendapatkan tekanan dari
dunia internasional, dan mutu pendidikan yang mereka berikan adalah pendidikan
yang bermutu rendah serta diupayakan agar bangsa Indonesia jadi budak penjajah
dan kehilang jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.
Kondisi pendidikan yang
demikian itu telah mendorong Ki Hajar Dewantara untuk meresponinya. Dialah
tokoh yang menggas agar pendidikan yang diberikan ke bangsa Indonesia adalah
pendidikan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia sendiri dan didasarkan pada
semangat nasionalisme, patriotism serta membangun jati diri bangsa sebagai
manusia yang merdeka, bebas, bermartabat, dan dihormati bangsa lain.
Berbagai aspek yang
terkait dengan pendidikan harus dirumuskan berdasarkan kemauan bangsa Indonesia
sendiri. Gagasan dan pekirin Ki Hajar Dewantara inilah yang kemudian mejadi
acuan menyelenggaraan pendidikan nasional hingga demokrasi yang berbunyi ing
ngarso sing tulodo (di depan member contoh), ing madya mangun karso (di tengah
membangkitkan kreativitas), dan tut wuri handayani(di belakang memberikan pengawasan)
adalah berasal dari Ki Hajar Dewantara. Demikian pula gagasan pendidikan yang
berwawasan global dengan cara mengharuskan para siswa menguasai pengetahuan
agama dan umum serta menguasai bahasa asing telah dicetuskan oleh Ki Hajar
Dewantara, jauh sebelum bangsa Indonesia mengenal apa yang disebut era
globalisasi.
A.
Pengantar
Berbicara tentang
pendidikan pada umumnya, serta pendidikan Islam pada khususnya di Indonesia
tidak dapat ditinggalkan pembicaraan terhadap tokoh dan pejuang pendidikan
Indonesia sejati yang bernama Ki Hajar Dewantara. Seorang pakar yang
berkecimpung atau mengosentrasikan keahliannya dalam bidang pendidikan, amatlah
naïf apabila tidak mengetahui dan memahami pemikiran pendidikan Ki Hajar
Dewantara. Hal yang demikian itu terjadi antara lain disebabkan karena berbagai
konsep strategis tentang pendidikan di Indonesia dalam hampir seluruh aspeknya
senantiasa merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Gagasan dan pemikiran
pendidikan Ki Hajar Dewantara telah ditulis dalam berbagai karangannya yang
mendapatkan sambutan hangat dari kepala Negara, Presiden Republik Indonesia
Pertama, Ir. Soekarno. Karena demikian luas dan mendalam pemikiran
pendidikannya itu, maka boleh jadi ia belum dapat dibaca oleh para pakar
pendidkan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, karena berbagai alasan.
Bagaimanakah corak, sifat dan karakter pemikiran pendidikannya itu, boleh jadi
belum dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat.
Demikian pula dalam
situasi reformasi seperti sekarang ini, konsep pendidikan di Indonesia tengah
ditinjau ulang untuk kemudian dihasilkan suatu rumusan konsep pendidikan yang
sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam kaitan mencari rumusan konsep pendidikan
yang demikian itu, maka sebaiknya kita menengok sejenak pemikiran-pemikiran pendidikan
yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara, dalam kerangka al-muhafadzah ala al-qadim
al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah (meneruskan hal-hal masa lalu yang
masih relevan dan mengambil pemikiran baru yang lebih baik).
Sejalan dengan
pemikiran singkat tersebut di atas, maka uraian yang ada paling tidak akan
membantu para pembaca untuk memahami pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara
secara cepat dan tepat, untuk kemudian dijadikan bahan bagi pengembangan dan
perumusan konsep pendidikan di masa depan.
Sebagai seorang Muslim
yang taat dan tinggal dalam lingkungan budaya Jawa yang kental, maka dapat
diduga kuat, bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara itu, selain dipengaruhi oleh
latar belakang pendidikan, situasi politik dan perjalanan hidupnya, juga akan
dipengaruhi oleh pandangannya tentang ajaran Islam. Hal ini pada gilirannya
menjadi dasar yang kuat untuk mengidentifikasi corak dan sifat gagasan-gagasan
pendidikan itu.
B.
Riwayat Hidup
Ki Hajar Dewantara yang
nama aslinya Suwardi Suryadiningrat dilahirkan pada 2 Mei 1889, bertepatan
dengan 1303 H. di Yogyakarta, dan wafat pada tanggal 26 April 1959 bertepatan
dengan 1376 H (berusia 70 tahun).
Dilihat dari segi
leluhurnya, ia adalah putra dari Suryaningrat, putra Pau Alam III. Sebagai
seorang keluarga nigrat, ia termasuk yang memperoleh keuntungan dalam
mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan dasarnya ia peroleh dari sekolah
rendah Belanda (Europeesche Lagere School, ELS). Setelah itu ia melanjutkan ke
Sekolah Guru (Kweek School); tetapi sebelum sempat menyelesaikannya, ia pindah
ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Arten). Namun di sekolah ini pun
ia tidak sempat menamatkan pendidikannya, dikarenakan ayahnya mengalami
kesulitan ekonomi. Sejak itu, ia memilih terjun ke dalam bidang jurnalistik,
suatu bidang yang kelak mengantarkannya ke dunia pergerakan politik nasional.
Pada tahun 1912, nama
Ki Hajar Dewantara dapat dikategorikan sebagai tokoh muda yang mendapat
perhatian Cokroaminoto untuk memperkuat barisan Syarekat Islam cabang Bandung.
Oleh karena itu, ia bersama dengan Wignyadisastra dan Abdul Muis, yang
masing-masing diangkat sebagai Ketua dan Wakil Ketua, Ki Hajar Dewantara
diangkat sebagai sekretaris. Namun keterlibatannyadalam Syarekat Islam ini
terhitung singkat, tidak genap satu tahun. Hal ini terjadi, karena bersama
dengan E.F.E. Dowes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia diasingkan ke Belanda
(1913) atas dasar orientasi politik mereka yang cukup radikal. Selain alasan
tersebut, Ki Hajar Dewantara tidak memiliki kesempatan untuk menjadi tokoh
penting di lingkungan Syarikat Islam.
Sebagai tokoh
pergerakan politik dan tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara tidak
hanya terlibat dalam konsep dan pemikiran melainkan juga terlihat aktif sebagai
pelaku yang berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan
Jepang melalui pendidikan yang diperjuankanya melalui Sistem Pendidikan Taman
Siswa yang didirikan dan diasuhnya. Dalam posisinya yang demikian itu, maka
dapat diduga ia memiliki konsep-konsep yang strategis tentang pendidikan di
Indonesia. Konsep ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut. Karena jasanya
yang demikian besar dalam dunia pendidikan, maka hari kelahirannya, tanggal 2
Mei dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
C.
Gagasan dan Pemikiran Pendidikan
Sebagaimana telah
disebutkan di atas, bahwa pada masa hidupnya Ki Hajar Dewantara banyak
mengabdikan dirinya bagi kepentingan pendidikan nasional, melalui Taman Siswa
yang dirikan dan diasuhnya. Dalam kapasitasnya yang demikian itu dapat diduga
kuat bahwa ia banyak memiliki gagasan dan pemikiran dalam bidang pendidikan
yang dikemukakannya.
Gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara selengkapnya dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan
Gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara selengkapnya dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan
Secara sederhana visi
dapat diartikan suatu cita-cita ideal yang bersifat jangka panjang jauh kedepan
dan mengandung makna yang amat dalam yang kemudian berfungsi sebagai arah
pandang kemana suatu kegiatan akan diarahkan. Secara konseptual visi biasanya
berisi rumusan kalimat yang tegas, jelas dan singkat.
Sedangkan misi adalah
serangkain langkah-langkah stategis yang lebih terperinci dan terukur yang
apabila dilaksanakan akan terasa pengaruhnya baik secara psikologis, sosiologis
maupun cultural. Kumpulan dari misi tersebut selanjutnya berfungsi untuk
mencapai visi.
Adapun tujuan, adalah
langkah-langkah strategis yang lebih terukur dan terjangkau hasilnya dalam
kurun dan kadar tertentu.
Dalam berbagai
tulisannya, Ki Hajar Dewantara tidak mengungkapkan visi dan misi tujuan
pendidikan secara eksplisit. Namun dari berbagi pernyataan yang dapat dilihat
menurut batasan pengertian tersebut di atas dapat dijumpai bahwa ia memiliki
visi dan misi pendidikan tersebut. Ki Hajar Dewantara misalnya mengatakan bahwa
“Pendidikan nasional sebagimana dianut oleh Taman Siswa adalah pendidikan yang
beralaskan garis hidup ari bangsanya (culturel-national) dan ditujukan untuk
keperluan kehidupan yang dapat mengangkat derajat Negara dan rakyatnya, agar
dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap
manusia di seluruh dunia.”
Pada bagian lain, Ki
Hajar Dewantara mengatakan “Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya
anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu menunutun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian yang
setinggi-tingginya."
Lebih lanjut Ki Hajar
Dewantara mengemukakan bahwa “Pendidikan yang dilakukan dengan keinsafan,
ditujukan ke arah keselamatan dan kebahagian manusia, tidak hanya bersifat laku
pembangunan, tetapi sering merupakan perjuangan pula. Pendidikan berarti
memelihara hidup tumbuh ke arah kemajuan, tak boleh melanjutkan keadaan kemarin
menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasaskan peradaban,
yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.”
Dengan memperhatikan
beberapa pernyataan tersebut di atas, tampak sekali bahwa visi, misi dan tujuan
pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah bahwa pendidikan sebagai alat perjuangan
untuk mengangkat harkat, martabat dan kemajuan umat manusia secara universal,
yang telah maju dengan tetap berpijak kepada identitas dirinya sebagai bangsa
yang memiliki peradaban dan kebudayaan yang berbeda dengan bangsa lain.
Pernyataan visi, misi
dan tujuan pendidikan yang bernuansa perjuangan tersebut tidak dapat dilepaskan
dari situasi dan kondisi sosial politik pada masanya, yaitu politik kolonial
penjajah Belanda yang telah menguras kekayaan alam Indonesia serta menyengsarakan
rakyat Indonesia secara lahir batin.
Pada masa Ki Hajar
Dewantara, pemerintah kolonial Belanda memang telah mulai memberikan sedikit
kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Namun, menurut
Ki Hajar Dewantara, pedidikan yang diberikan oleh pemerintah Belanda itu tidak
lepas dari tujuan kolonialismenya, dan bukan untuk mengangkat harkat dan
martabat bangsa Indonesia. Lebih lanjut Ki Hajar Dewantara mengatakan sebagai
berikut:
“Pengajaran pada zaman
sekarang (masa Ki Hajar Dewantara hidup), tak dapat member kepuasan pada rakyat
kita. Pengajaran gubernemen, yyang seolah-olah dijadikan contoh dan umumnya
dianggap sebagai usaha untuk menjunjung derajat kita, ternyata tak dapat
memberi penghidupan pada kita, yang sepadan dengan cita-cita kita sebagai
rakyat yang berusaha akan mendapatkan keselamatan. Hingga kini nasib kita
semata-mata hanya memberi manfaat kepada bangsa lain.”
Lebih jauh ia
mengatakan bahwa pengajaran yang kita terima dari pemerintah itu pertama kali
sangat kurang, kedua kalinya sangat mengecewakan sebagai alat pendidikan
rakyat. Sungguhpun ada sebagian kecil dari bangsa kita, yaitu kaum priyayi yang
boleh menuntut pelajaran di sekolah Belanda hingga kemudian dapat meneruskan
pelajarannya di sekolah yang lebih tinggi, tetapi untuk rakyat umum tertutup
pintu yang dapat menuntut ke arah penghidupan yang pantas. Kemudian kita
mendapat sekolah bumiputra kelas satu, yang kelak menjadi HIS (Holland
Indischee School) banyak orang yang merasa senang, karena ada pengharapan bagi
anak-anaknya mencapai kepandaian yang bisa dijadikan alat untuk mencapai
derajat penghidupan yang sama dengan penghidupan bangsa lain yang hidup di
tanah kita. Akan tetapi penghargaan itu dikatakan sia-sia belaka.
Ki Hajar Dewantara
lebih lanjut mengatakan bahwa anak keluaran HIS itu umumnya masih kurang
kepandaiannya untuk meneruskan pelajaran pada sekolah yang lebih tinggi.
Kebanyakan anak-anak itu tak dapat diterima untuk MULO (setingkat Perguruan
Tinggi), karena kurang kepandaiannya, terutama dalam hal bahasa Belanda. Untuk
mencari pekerjaan, maka anak-anak keluaran HIS itu masih sangat mentah;
kebanyakan mereka itu hanya cakap buat menjabat jurutulis atau jurutulis
pembantu dengan gaji yang sama dengan gaji jongos atau koki.
Berdasar fakta-fakta
tersebut di atas, terlihat dengan jelas bahwa pendidikan yang diberikan oleh
pemerintah Belanda kepada rakyat Indonesia adalah pendidikan yang tidak
bermutu, berbeda dengan pendidikan yang mereka berikan kepada bangsanya sendiri
atau orang-orang Eropa, termasuk orang Cina. Dengan kata lain, pemerintah
Belanda telah bersikap sangat diskriminatif terhadap bangsa Indonesia.
Atas dasar kenyataan
inilah Ki Hajar Dewantara menginginkan agar rakyat Indonesia memiliki
pendidikan yang tak kalah mutunya dengan pendidikan yang diselenggarakan adalah
pendidikan yang bebas dari campur tangan penjajah, ditentukan oleh visi, misi
dan tujuan kita sendiri, melalui lembaga pendidikan yang diadakan oleh sendiri.
Inilah yang menyebabkan Ki Hajar Dewantara mendirikan Lembaga Pendidikan Taman
Siswa.
Adapun perlunya
landasan budaya dan peradaban bangsa sendiri yang menjiwai pendidikan
pendidikan bagi bangsa Indonesia sebagaimana terlihat pada Taman Siswa, adalah
karena pendidikan yang diberikan oleh kolonial Belanda kepada bangsa kita
pendidikan yang menyebabkan bangsa kita kehilangan kepercayaan pada dirinya dan
kepada rakyatnya, bahkan juga kepada perikeadaban bangsa sendiri, sehingga
kultur kita amat bergantung pada masyarakat Eropa di negeri kita ini. Dalam
kaitan ini, Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa usaha dari perguruan kebangsaan
untuk membelokkan aliran koloial ke arah nasional dengan mengadakan cara dan si
pengajaran sendiri, sering kali hanya dapat persetujuan dalam kata, tidak
dengan tenaga, disebabkan karena umumnya orang masih mengharap dapat tempat di
dalam masyarakat Hindia Belanda, sehingga sering kali aliran prinsipil nasional
terdesak oleh pengaruh Eropa.
Selain itu bahwa perlunya ditanamkan jiwa kebangsaan dan kebudayaan Indonesia melalui pendidikan yang diselenggarakan sendiri, adalah karena sifat dari pendidikan kolonial Belanda dipandang oleh Ki Hajar Dewantara sebagai yang tidak sejalan dengan falsafat orang timur yang menekankan prinsip keseimbangan antara pemenuhan lahir batin, material spiritual, jasmani dan rohani, individual dan sosial, emosional dan intelektual. Pendidikan kolonial yang diberikan kepada rakyat Indonesia telah menyebabkan rakyat kita menjadi materialistis (mengutamakan hidup materi semata-mata), rasionalistis (hanya menerima hal-hal yang dianggap benar menurut akal saja), egoistis (hanya mementingkan diri sendiri saja), dan eropanis (mengagung-agungkan budaya Eropa).
Selain itu bahwa perlunya ditanamkan jiwa kebangsaan dan kebudayaan Indonesia melalui pendidikan yang diselenggarakan sendiri, adalah karena sifat dari pendidikan kolonial Belanda dipandang oleh Ki Hajar Dewantara sebagai yang tidak sejalan dengan falsafat orang timur yang menekankan prinsip keseimbangan antara pemenuhan lahir batin, material spiritual, jasmani dan rohani, individual dan sosial, emosional dan intelektual. Pendidikan kolonial yang diberikan kepada rakyat Indonesia telah menyebabkan rakyat kita menjadi materialistis (mengutamakan hidup materi semata-mata), rasionalistis (hanya menerima hal-hal yang dianggap benar menurut akal saja), egoistis (hanya mementingkan diri sendiri saja), dan eropanis (mengagung-agungkan budaya Eropa).
Selanjutnya Ki Hajar
Dewantara menginginkan agar pendidikan yang diberikan kepada bangsa Indonesia
adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman, yaitu pendidikan yang
dapat membawa kemajuan bagi peserta didik. Ungkapan ini merupakan respons dari
adanya pendidikan yang di berikan oleh pemerintah Belanda kepada rakyat kita,
yaitu pendidikan yang mengajarkan hal-hal yang sulit dipelajari, tapi tidak ada
fungsinya untuk menolong kehidupan rakyat di masa depan.
Berdasarkan pada uraian
tersebut di atas, tampak dengan jelas bahwa visi, misi dan tujuan pendidikan Ki
Hajar Dewantara adalah pendidikan yang berasaskan kemerdekaaan, keseimbangan,
kesesuaian dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Tuhan.
2. Kurikulum (Mata
Pelajaran)
Istilah “kurikulum”
berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung
pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai
garis finish. Dalam pengertian yang sederhana kurikulum sering diartikan dengan
sejumlah mata pelajaran atau bidang studi. Namun dalam perkembangan selanjutnya
pengertian kurikulum tidak hanya terbatas pada pengertian sejumlah mata
pelajaran atau bidang studi saja, melainkan termasuk pula kegiatan-kegiatan
belajar dimaksud dapat dilakukan dalam kelas dengan mengikuti ceramah, bertanya
jawab, mengadakan demonstrasi, bisa juga kegiatan di luar kelas, baik di dalam
maupun di luar kampus. Sejalan dengan itu pendapat berikutnya mengatakan bahwa
menurut pandangan modern, kurikulum lebih dari sekadar rencana pelajaran atau
bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern ialah semua secara nyata terjadi
dalam proses pendidikan di sekolah. Pandangan ini bertolak sesuatu actual, yang
nyata, yaitu yang actual terjadi di sekolah dalam proses belajar.
Sebagai seorang pemikir
dan praktisi pendidikan, Ki Hajar Dewantara dalam berbagai bukunya tidak
terlibat dalam mengartikan kurikulum secara teknis sebagaimana tersebut di
atas. Namun secara substansial, dapat dijumpai bahwa Ki Hajar Dewantaradengan caranya
sendiri banyak membicarakan masalah kurikulum, yakni kurikulum dalam arti
konvensional, yaitu nama-nama mata pelajaran yang perlu diajarkan kepada para
siswa sesuai dengan tingkatannya. Dalam kaitan ini, Ki Hajar Dewantara antara
lain mengatakan sebagai berikut:
“Pelajaran yang
diberikan kepada anak-anak boleh dibagi menjadi dua. Pertama, mata pelajaran
yang selain memberi pengetahuan atau kepandaian juga pengaruh pada kemajuan
batin, dalam arti memasakkan (mematangkan) pikiran, rasa dan kemauan. Sedangkan
yang kedua adalah mata pelajaran yang akan memberi bekal pada anak-anak untuk
hidupnya kelak dalam pergaulan umum; yaitu mata pelajaran yang meliputi
lapangan cultural dan kemasyarakatan.”
Pada bagian berikutnya
Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pelajaran yang menajamkan pikiran dan
berdasarkan kemasyarakatan itu umumnya menjadi pokoknya progam pendidikan
secara Barat, yang kita jumpai dalam sistem sekolah dengan ekor-ekornya:
intelektualisme dan materialism, yaitu mendewakan angan-angan dan keduniaan.
Adapun pendidikan secara Timur yang sekarang juga mulai dimasukkan dalam cara
pendidikan Eropa, biasanya mengutamakan keluhuran budi pekerti.
Dengan ungkapan
tersebut, terlihat bahwa Ki Hajar Dewantara menginginkan agar bahan pelajaran
diberikan mengarah pada pembentukan kepribadian yang memiliki kemajuan yang
seimbang antara dimensi intelektual dan emosional, duniawi dan ukhrawi,
material dan spiritual sebagaimana telah diuraiakan di atas. Bahan pelajaran
yang memajukan intelek dan kemasyarakatan, dengan memberikan ilmu dan
kepandaian pada anak-anak kita yang ditujukan kepada matangnya batin, yaitu
halusnya perasaan serta teguh, tetap dan luhurnya kemauan yang akhirnya dapat
menyesuaikan hidupnya anak dengan dunianya (alam individu, alam kebangsaan,
alam kemanusiaan); yang kesemuanya ini dimaksud untuk mencapai keselamatan dan
kebahagiaan, bagi orang seorang, serta di alam pergaulannya dengan orang-orang
lain dapat dicapai pula tertib dan damai.
Selain mempertimbangkan
factor-faktor keseimbangan hidup sebagaimana tersebut di atas, mata pelajaran
(kurikulum) yang diberikan kepada anak didik juga harus bertolak dari kodrat
manusia yang memiliki sifat dan ciri-ciri kejiwaan yang sesuai dengan
perkembangan usianya. Sejalan dengan ini, Ki Hajar Dewantara menguraikan bahan
pelajaran sebagai berikut.
Pertama, untuk anak
usia Taman Kanak-kanak hendaknya diajarkan: (a) permaianan dan olahraga dengan
nyanyian dan tari (pemeliharaan badan secara rhytms); (b) nyanyian rakyat
(macapat, tembang, gending di tanah Jawa); menggambar corak dan warna,
merangkai bunga, menyulam daun pisang yang disobek-sobek atau janur. Latihan
ini diberikan untuk kesempurnaan pancaindera yang dihubungkan dengan rasa; (c)
cerita yang berujud dongeng, mitologis dan historis ( tambo hanya yang mengenai
daerahnya) dihubungkan dengan pelajaran bahasa dan lagu (metode Sari Swara);
dan (d) pelajaran mengenal keadaan tempat kelilingnya si anak selaku persediaan
pelajaran ilmu alam, ilmu kodrat, ilmu bumi, dan ilmu negeri (kemasyarakatan dan
kenasionalan).
Kedua, untuk taman muda
(masa wiraga wirama), hendaknya diberikan pelajaran: (a) olahraga, pencak dan
tari; (b) nyanyian (di tanah Jawa: tembang gede, tembang gending), dan buat
yang cakap yang disertai gamelan (instrumental), selanjutnya menggambar menurut
kepandaian dan mulai berkenalan dengan alam kesenian Indonesia Raya dan Asia;
(c) bahasa dan cerita kesusasteraan, tambo dan keagamaan, mulai dari alam
daerah, kemudian alam Indonesia dan akhirnya ikhtisar dari Asia; (d)
pengetahuan tentang kodrat alam, bumi, negeri dan pergaulan umum di tanah
airnya, di daerah Asia dan di benua lain-lainnya.
Ketiga, untuk taman
dewasa (masa wirama) hendaknya diajarkan: (a) olahraga diteruskan dengan tujuan
agar dapat mempertahankan diri; (b) tari dilanjutkan nyanyian dang ending,
menggambar dan kesenian lain-lainnya dimajukan, mulai belajar mengenal alam
kesenian asing (Eropa); (c) bahasa dan kesusasteraaan daerah dan Indonesia,
bahasa asing dunia (bahasa Inggris),ilmu keagamaan, “mythen” dan “legenden”
dari luar Indonesia; (d) ilmu negeri dari Indonesia sekarang dan dahulu dan
pokok pangkalnya sosiologi dan ekonomi, penunutun anak-anak mengadakan
perhimpunan umum, koperasi, perusahaan, majalah, debating club, dan badan
pertolongan dan sebagainya.
Berdasarkan informasi
tersebut terlihat dengan jelas bahwa Ki Hajar Dewantara secara eksplisit tidak
berbicara tentang kurikulum dalam pengertian sebagai kurikulum yang bersifat
konsepsional teoretis akademis sebagaimana yang dikenal sekarang. Dalam konteks
ini kita dapat mengatakan bahwa Ki Hajar Dewantara tidak memiliki kapasitas
sebagai seorang teoretisi murni semata-mata. Ki Hajar Dewantara lebih
memperlihatkan perpaduan antara teoretisi dan praktisi. Sebagai teoretisi,
terliaht pada gagasan dan pemikirannya yang didasarkan pada kebutuhan objektif
masyarakat serta situasi cultural yang berkembang pada zamannya. Sedangkan
sebagai praktisi, terlihat pada upaya melaksanakan gagasan dan pemikirannya
itu. Yang dibicarakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah bahan pelajaran atau
sejumlah mata pelajaran yang perlu diajarkan kepada para siswa sesuai dengan
tingkatannya, yakni usia kanak-kanak, usia anak/remaja dan usia dewasa.
Kesesuaian mata pelajaran dengan tingkat usia anak ini mendapatkan perhatian
dan penekanan yang spesifik dari Ki Hajar Dewantara. Hal yang demikian selain
memperlihatkan kedalaman wawasannya tentang psikologi anak, juga karena
tanggung jawabnya yang demikian besar terhadap kondisi kejiwaaan, psikologis dan
fisiologis peserta didik.
Pemikiran dan gagasannya
tentang mata pelajaran, secara substansial tampak masih cukup relevan untuk
diterapkan di masa sekarang. Bagi kalangan praktisi pendidikan, mulai dari
tingkat yang paling dasar, yaitu taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi
dapat mengambil model atau sekurang-kurangnya sabagai bahan perbandingan dari
model pendidikan yang akan dikembangkan.
Hal lain yang cukup
menarik dari gagasan dan pemikirannya tentang mata pelajaran tersebut di atas
adalah wawasan yang bersifat global dan mendunia. Hal ini terlihat dari adanya
mata pelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris yang merupakan syarat
untuk dapat melakukan pergaulan pada tingkat dunia. Hal yang menarik lainnya
adalah bahwa Ki Hajar Dewantara amat mementingkan pendidikan kanak-kanak, kesenian,
kekeluargaan, keindonesiaan, kejiwaan, kesopanan dan bahasa, baik bahasa
daerah, bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Pada seluruh mata pelajaran ini
juga terlihat adanya hubungan antara yang satu dengan yang lainnya.
Pemikiran dan gagasan
Ki Hajar Dewantara dalam bidang kurikulum terlihat sangat dipengaruhi oleh
semangat kemandirian yang dibangunnya dengan bertumpu pada budanya bangsa
sendiri, yaitu budaya Indonesia. Sungguhpun ia dibesarkan daalam lingkungan
pendidikan Belanda, tapi ia laksana ia dalam laut. Sungguhpun air laut itu
asin, tapi ikan tidak asin, kecuali sengaja diasin. Ki Hajar Dewantara
memperlihatkan kejeniusan, keorisinalan, dan kemandirinya dalam menyusun dan
mengembangkan kurikulum (mata pelajaran). Ia ingin mandiri dan tidak mau menjiplak
produk Belanda. Ia ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia juga dapat mengurus
dan merumuskan sendiri tentang pendidikan yang terbaik bagi bangsanya.
3. Pendidikan Budi
Pekerti
Pendidikan budi pekerti
termasuk bidang kajian yang mendapat perhatian yang menonjol dari Ki Hajar
Dewantara. Pemikiran dan gagasannya tentang pendidikan budi pekerti secara
akademis amat luas, kokoh dan komprenhensif, sebagaimana hal ini terlihat pada
sejumlah referensi dari para tokoh dalam bidang yang ia gunakan. Penguasaannya
terhadap ilmu jiwa yang demikian luas dan mendalam telah digunakannya secara
fungsional, proporsional dan elegan dalam membangun konsep atau teorinya
tentang pendidikan budi pekerti. Demikian pula semangat nasionalisme,
kemandirian dan kemerdekaanya dari pengaruh budaya Belanda telah semakin
mendorong baginya untuk merumuskan konsep budi pekerti yang khas bagi bangsa
Indonesia. Hal yang demikian terlihat pada adanya bab khusus tentang pendidikan
Adab dan Ethik dalam buku Bagian Pertama Pendidikan, mulai dari halaman 459
sampai 491 (32 halaman). Selain itu, pada setiap bab pembahasan buku tersebut,
walaupun judulnya bukan membahas tentang budi pekerti tapi di dalamnya dijumpai
wawasan yang bernuansa akhlak.
Dalam pandangan Ki
Hajar Dewantara, budi pekerti adalah jiwa dari pengajaran, dan bukan konsep
yang bersifat teoretis sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya,
dan bukan pula pengajaran budi pekerti dalam arti mengajar teori tentang baik
buruk, benar salah, dan seterusnya. Dalam hubungan ini Ki Hajar Dewantara
mengatakan sebagai berikut.
“Dikiranya bahwa
pengajaran budi pekerti mengandung arti: pemberian kuliah-kuliah atau
ceramah-ceramah tentang hidup kejiwaan atau peri keadaban manusia. Atau
keharusan memberi keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan tentang budi
pekerti secara luas dan mendalam. Mungkin ada yang mengira, bahwa untuk itu si
pengajar harus seorang yang berpengetahuan dan berpengalaman. Paling sedikit
harus seorang yang suci hidupnya, lahir dan batin. Guru diartikan sebagai orang
yang harus “digugu” dan “ditiru”. Segala dugaan itu adalah tidak benar, atau
boleh dikatakan sebagai sangkaan-sangkaan yang melebihi batas-batas kemungkinan
dan keinginan. Karenalah itulah hendaknya diinsyafi, bahwa pengajaran budi
pekerti tidak lain artinya daripada menyokong perkembangan hidup anak-anak,
lahir dan batin, dari sifat kodratinya menuju ke arah peradaban dalam sifatnya
yang umum. Menganjurkan atau kalau perlu memerintahkan anak-anak untuk duduk
ang baik, jangan berteriak-teriak agar tidak mengganggu orang lain, bersih
badan dan pakainnya, hormat terhadap ibu bapak dan orang-orang tua lainnya,
menolong teman-teman yang perlu ditolong, demikian seterusnya, itulah semuanya
sudah merupakan pengajaran budi pekerti. Terhadap anak-anak kecil cukuplah kita
membiasakan mereka untuk bertingkah laku yang baik, sedangkan bagi anak-anak
yang sudah dapat berpikir , seyogianyalah diberikan keterangan-keterangan yang
perlu-perlu. Agar mereka dapat pengertian dan keinsyafan tentang kebaikan dan
keburukan pada umumnya. Barang tentu perlu juga kepada anak-anak dewasa kita
yang baik dengan cara disengaja. Dengan begitu maka syarat pendidikan budi
pekerti, yang dahulu biasa saja disebut metode menyadari, mnginsyafi dan
melakukan dapat terpenuhi.
Itulah maksud dan
tujuan pemberian pengajaran budi pekerti, dihubungkan dengan
tingkatan-tingkatan perkembangan jiwa yang ada didalm hidupnya anak-anak, mulai
kecilnya sampai masa dewasanya. Ada baiknya untuk perbandingkan kita
memperhatikan tradisi pendidikan keagamaan (Islam) yang sudah di zaman dahulu
terkenal sebagai metode syari’ah, hakikat, tarikat, dan makrifat.”
Uraian tersebut dengan
jelas memperlihatkan perhatian yang demikian besar dari Ki Hajar Dewantara
terhadap pentingnya pendidikan budi pekerti yang ditekankan pada pembentukan
karakter, perilaku dan kepribadian melalui upaya pembiasaan melakukan perbuatan
terpuji yang dilakukan mulai dari sejak kecil hingga dewasa. Pendidikan budi
pekerti yang dimaksud olehnya bukanlah mengajarkan teori-teori tentang baik
buruk dengan dalil-dalilnya yang serba menjelimet. Yang ia kehendaki dengan
pendidikan budi pekerti adalah pembiasaan berbuat baik pada diri anak dalam
kehidupan sehari-hari, hingga mendarah daging. Dan kalaupun ada penjelasan dan
keterangan, tapi hal yang demikian dilakukan hanya sebagai penguat, alat dan
bukan tujuan.
Selain itu, Ki Hajar
Dewantara juga memiliki pandangan pendidikan budi pekerti yang bersifat
integrated dengan pengajaran pada setiap bidang studi. Dengan kata lain, Ki
Hajar Dewantara menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apa pun
harus mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti
pada pengajaran mata pelajaran tersebut semata-mata. Baginya pengajaran adalah
alat bukan tujuan. Pengajaran matematika misalnya adalah alat untuk
menghasilkan anak yang memiliki ketrampilan dalam memahami dan mempraktikkan
rumusan hitungan secara tepat dan akurat. Namun bersamaan dengan itu pengajaran
matematika tersebut harus diarahkan pada
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian dan analisis pada bab pembahasan di atas, dapat dikemukakan analisis dan kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan uraian dan analisis pada bab pembahasan di atas, dapat dikemukakan analisis dan kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, tokoh yang
dibahas dalam makalah ini dapat dikategorikan sebagai tokoh pembaharuan
pendidikan di Indonesia. Ciri-ciri kemodernan mereka antara lain terlihat pada
keberaniannya mengemukakan pendapat serta pemikiran mereka senantiasa
dihubungkan dengan kebutuhan zaman di mana mereka berada, bersifat demokratis,
terbuka, inovatif, progresif, dan rasional.
Kedua, terciptanya
pembaruan pendidikan yang dikemukakan tampak sangat dipengaruhi oleh latar
belakang kehidupan keluarga, pendidikan, tempat tinggal, teman dan kolega,
bacaan, serta dorongan kuat yang timbul dari diriny sendiri. Hal ini
mengingatkan kepada kita, bahwa jika kita menginginkan agar memiliki corak
pemikiran tertentu, maka bebagai faktor yang memengaruhinya harus
dipertimbangkan.
Ketiga, ide-ide
pembaruan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut bukan
hanya tertinggal dalam kertas atau angan-angan belaka, melainkan telah pula
dipraktikkan dalam kenyataan dan telah menghasilkan manfaat yang tiadak kecil.
Gagasan dan pemikiran yang mereka kemukakan telah memengaruhi perkembangan dan
kemajuan pendidikan di Indonesia. Upaya mereka patut diharagai dengan terus memelihara
dan mengembangkannya.
Gagasan tentang
pemerataan pendidikan yang bermutu hingga sekarang masih relevan untuk
didengungkan dan diperjuangkan, mengingat hingga kini gagasan beliau tersebut
ada yang masih belum terwujud. Masih terdapat puluhan juta masyarakat yang
belum menikmati pendidikan yang bermutu.
Pendidikan harus
mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana bisa hidup secara eksis dan
fungsional di tengah-tengah masyarakat. Tujuan pendidikan, dasar pemikiran,
kurikulum pendidikan, dan sebagainya harus diarahkan pada upaya menghasilkan
manusiayang mandiri. Pendidikan yang membebaskan, integrasi ilmu, dan penguatan
pada kemampuan adalah tampak masih cukup relevan untuk diaplikasikan di masa
sekarang, saat Indonesia memasuki era globalisasi yang menuntut kemandirian,
kemampuan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Pendidikan adalah alat
perjuangan untuk mengangkat harkat, martabat dan kemajuan umat manusia secara
universal, sehingga mereka dapat berdiri kokoh sejajar dengan bangsa-bangsa
lain yang telah maju, dengan tetap berpijak pada identitas dirinya sebagai
bangsa yang memiliki peradaban dan kebudayaan.
Berbagai gagasan dan
pemikiran pembaruan pendidikan yang dikemukakan jika dipraktikkan akan dapat
memberikan dampak perubahan yang signifikan bagi kemajuan pendidikan. Gagasan
dan pemikiran tersebut kiranya dapat menjadi dasar bagi kebijakan para
pengambil keputusan dalam bidang pendidikan.
Daftar Pustaka
Nata, Abuddin. 2003.
Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
www.tokoh pendidikan.com